Memasyarakatkan Filsafat Melalui ECF

Filsafat sering diasosiasikan dengan sesuatu yang abstrak dan sulit dicerna. Dalam filsafat – yang merupakan bidang ilmu berpikir rasional, reflektif, kritis dan mendalam – kemampuan bernalar seseorang diasah. Untuk itulah Fakultas Filsafat Unpar sejak lebih dari 10 tahun membuka program Extension Course Filsafat (ECF).

ECF yang dikemas tidak terlalu akademis diperuntukkan bagi masyarakat luas, khususnya di Bandung. Sementara itu, kajian filsafat yang lebih akademis diakomodasi dalam konsentrasi filsafat budaya.

Sekadar catatan, ECF merupakan sebuah kegiatan nonprofit yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan. Kegiatan ini diadakan secara rutin setiap semester, pada setiap Jumat, pukul 18:30 WIB di kampus Fakultas Filsafat, Jl. Nias Nomor 2, Bandung. Program ECF diadakan juga dalam rangka mewujudkan pengabdian masyarakat dalam Tri Darma Perguruan Tinggi.

Perluasan

ECF bisa ditafsirkan sebagai sebuah “kursus informal”. Bisa juga ditafsirkan sebagai sebuah “extension”: sebuah perluasan, sebuah pengembangan, sebuah perbentangan yang lebih egaliter. Filsafat yang ditekuni dalam konteks internal fakultas mengalami suatu bentuk perluasan, suatu “extension”, gerakan ke luar.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadikan filsafat yang umumnya dikenyam dalam pendidikan formal, tersedia pula untuk dicicipi secara lebih luas oleh khalayak umum. “Extension” tersebut juga menjadi semacam pemuas dahaga bagi rasa haus khalayak umum akan kehadiran kemasan filsafat yang lebih popular serta membumi.

Animo para peserta cukup tinggi. berkisar antara 50 s/d 70 orang per semester,yang hal ini dapat ditafsirkan sebagai sebuah kerinduan akan suatu bentuk pengembangan pikiran dan wawasan. Orang-orang ingin mengembangkan khazanah pengetahuan mereka melalui pembahasan berbagai tema kehidupan, serta berbagai pertanyaan manusia kontemporer yang sifatnya “fundamental” dalam setiap sesi ECF yang tidak ditemukan dalam pendidikan formal.

Jumat senja hingga malam menjadi waktu untuk membincangkan berbagai hal. Mulai dari pemikiran post-kolonial, hermeneutika keseharian, kosmologi, seni, humor, hakikat uang, hingga tema kematian. Para pesertanya pun datang dari latar belakang yang beragam: dosen, mahasiswa, aktivis sosial dan agama, guru, ibu rumah tangga, pensiunan bahkan siswa SMA.

Selama lebih dari satu dekade, perlahan terbentuk komunitas pecinta filsafat di Bandung yang dapat diakses di media sosial, yaitu ECF Unpar Club di Facebook.

Tema-tema yang dibincangkan dalam ECF dinalar dari berbagai pendekatan. Seni tidak hanya dilihat sisi estetisnya, namun juga dimensi moral berikut implikasi sosiologis. Kematian tidak hanya dilihat sebagai kondisi medis, tetapi juga sebagai fenomena saintifik serta sebagai “perspektif” yang signifikan untuk menafsirkan hidup itu sendiri.

Dengan kata lain, dalam ECF, beragam tema yang dibahas dari berbagai perspektif filosofis mengalami suatu perbentangan.

Sebagai penutup, ECF merupakan sebuah “course”, sebuah perjalanan bersama-sama, dan juga sebuah “course” dalam arti lainnya. Sebuah hidangan yang dapat dinikmati bersama dengan filsafat sebagai alat raciknya. Tak berlebih untuk mengatakan bahwa setiap orang adalah “filsuf”, sang penafsir kehidupan.

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 16 Februari 2016)