
FILSAFAT.AC.ID, Bandung – Di balik keindahan alam Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tersembunyi sebuah potensi besar yang belum banyak diketahui publik: kotoran kelelawar dari Guha Bau yang dapat diolah menjadi pupuk guano. Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PPPM) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), didampingi pemandu lokal Kang Kholil dan Kang Amud, menempuh perjalanan menantang—melewati medan curam, hutan lebat, dan menyusuri sungai Green Canyon—untuk mencapai gua raksasa sedalam sekitar 100 meter ini. Di dalamnya, ribuan kelelawar tinggal dan menghasilkan kotoran yang ternyata memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi.
Kotoran kelelawar tersebut, meski beraroma khas yang melatarbelakangi nama “Guha Bau”, terbukti efektif sebagai pupuk organik alami. Masyarakat setempat telah memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen padi tanpa merusak lingkungan. Pupuk guano kaya akan nutrisi penting bagi tanaman, menjadikannya solusi pertanian berkelanjutan yang selaras dengan prinsip ekologi integral. Kesadaran akan manfaat ini tumbuh melalui kolaborasi antara tim PPPM Unpar dan warga desa selama kegiatan pengabdian dan penelitian lapangan.
Namun, potensi besar ini terhambat oleh kendala teknis utama: sulitnya mengangkut kotoran kelelawar dari dasar gua yang berada sekitar 80 meter di bawah permukaan. Minimnya alat pengangkut yang memadai menghambat seluruh rantai produksi—mulai dari pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi pupuk guano. Tanpa solusi atas tantangan logistik ini, upaya komersialisasi dan pemanfaatan skala luas pupuk guano menjadi terbatas, sehingga potensi ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat pun belum optimal.
Oleh karena itu, dukungan infrastruktur—terutama alat pengangkut yang efisien—serta kolaborasi dengan pemerintah desa atau mitra strategis sangat dibutuhkan. Dengan mengatasi hambatan teknis ini, Desa Kertayasa tidak hanya dapat memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pertanian organik, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis ekowisata dan produk pertanian berkelanjutan. Perjalanan tim PPPM ke Guha Bau bukan hanya pencarian “mutiara” tersembunyi, melainkan langkah awal menuju pemberdayaan masyarakat yang berakar pada kearifan lokal dan keberlanjutan ekologis. (YS@2026)
Sumber Asli: Mutiara Berharga Guha Bau Desa Kertayasa Pangandaran | Bandung…


