
1. Identitas dan Sejarah Parahyangan Orchestra (Parchestra)
Parahyangan Orchestra atau Parchestra merupakan unit berbasis komunitas yang berdiri secara resmi pada 17 Februari 2023 di bawah naungan Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR). Sebagai unit Penunjang Seni dan Budaya di lingkungan UNPAR, Parchestra hadir sebagai ruang artistik yang mengintegrasikan praktik musikal dengan nilai akademik dan kultural universitas. Parchestra bersama dengan Program Studi – Studi Humanitas (Integrated Arts) UNPAR menyajikan seni pertunjukan yang mengajak kita untuk menyelami berbagai aspek kehidupan melalui musik dan visual. Kerja sama ini mendukung misi institusi dalam pengembangan dan pewarisan nilai budaya secara kritis-kreatif melalui penelitian dan pengembangan dalam aspek seni. Posisi tersebut menempatkan Parchestra sebagai representasi komitmen universitas terhadap penguatan ekosistem seni yang reflektif dan berkelanjutan.
Komunitas Parchestra terdiri dari musisi profesional, mahasiswa, dan siswa tingkat lanjut dari wilayah Bandung. Rekrutmen anggota dilakukan dengan mekanisme audisi terbuka untuk kemudian diseleksi. Komposisi anggota mencerminkan karakter inklusif dan kolaboratif. Parchestra mengusung orientasi artistik yang menekankan kualitas musikal dengan standar internasional. Orientasi tersebut berpadu dengan komitmen untuk mengangkat karya komponis muda Indonesia dengan standar dunia. Demikian pula dengan komposisi-komposisi yang dibawakan dalam setiap pertunjukan. Melalui mekanisme panggilan terbuka untuk komposisi (call for scores)yang tematik, para komponis muda Indonesia mendapatkan kesempatan agar komposisi yang terpilih dapat dipresentasikan ke ranah publik. Kerja artistik Parchestra dikembangkan dalam dialog antara musik, visual, filsafat, dan berbagai disiplin seni lain. Sinergi tersebut memperlihatkan identitas Parchestra sebagai orkestra yang tidak hanya performatif, tetapi juga reflektif dan konseptual.
2. Karya dan Kegiatan Parchestra
Parchestra mengambil peran aktif dalam pengembangan kebudayaan Indonesia abad ke-21 melalui produksi dan pementasan karya baru dalam bidang seni musik orkestra. Semenjak 2023 sampai dengan saat ini, Parchestra telah memerdanakan puluhan karya dari komponis Indonesia bagi lebih dari 4.000 orang penonton. Aktivitas tersebut menunjukkan kontribusi nyata dalam memperluas repertoar musik orkestra kontemporer nasional. Parchestra juga telah mengembangkan bentuk pertunjukan lintas disiplin yang menggabungkan musik dengan dimensi filosofis melalui elemen seni lainnya, diantaranya adalah:
| No | Nama Kegiatan | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Kizuna (2023) | Perenungan kembali atas ragam hubungan yang dialami oleh manusia menjadi tujuan utama dari penyelenggaraan konser ini. Dari sekian banyak perjumpaan maupun persilangan, baik secara maya maupun nyata, konser ini mengajak para penonton untuk kembali merenungi dan menyiangi hubungan-hubungan yang dialami secara kebermaknaan. |
| 2 | Dangiang Karinding (2024) | Konser ini menghadirkan kolaborasi pertama di dunia antara rampak karinding bernada dan orkes simfoni. Di konser ini Parchestra menampilkan 3 pupuh klasik Sunda dalam format orkestra untuk pertama kalinya di dunia, sebagai bentuk reinterpretasi tradisi dalam kerangka musikal modern. |
| 3 | The Nutcracker (2024) | Berkolaborasi dengan Arabesque Ballet Studio, Parchestra menghadirkan pertunjukan balet dengan orkestra live di Kota Bandung. Konser ini merupakan inisiatif untuk memperluas bentuk presentasi seni pertunjukan pada konteks lokal. |
| 4 | Spirit (2024) | Konser yang bersifat kontemplatif ini membahas mengenai jiwa manusia yang kompleks. Bekerja sama dengan mahasiswa Integrated Arts UNPAR, salah satu komposisi yang dibawakan menggabungkan orkestrasi musik dengan mixed media sebagai representatif dari masyarakat bantaran Sungai Cikapundung. Sebuah dialog pengalaman audio-visual yang didukung dengan tata cahaya mutakhir di Arntz Geise Hall serta integrasi media untuk menghasilkan pengalaman artistik yang imersif dan kontekstual. Terutama atas ketidakselarasan antara dua subjek yang hadir dalam ruang kota yang sama: manusia dan sungai. Penonton diajak untuk hadir merasakan dan mendengar amarah bisu dari sungai yang sudah lama terdiam. |
| 5 | Parikrama Parahyangan (2025) | Konser ini merupakan kolaborasi bersama dengan musisi nasional. Parchestra menjalin kerja artistik dengan pianis jazz terkemuka Dwiki Dharmawan dan vokalis kawakan Nya Ina Raseuki (Ubiet), Trie Utami, Daniel Kristanto, serta Ita Purnamasari. Kolaborasi ini menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai ekspresi musikal. Interaksi lintas genre memperkuat posisi Parchestra sebagai laboratorium artistik yang dinamis dan inovatif. Melalui jalinan harmoni dan bebunyian, Parchestra membawa penontonnya untuk berparikrama (berjalan berkeliling) tanpa pernah melupakan rasa hormat kepada Tanah Parahyangan di mana para Hyang bersemayam. |
| 6 | //Pascahumana (2026) | 10 rangkaian komposisi baru dari para komponis Indonesia dalam konser ini bertemakan kondisi posthuman. Melalui konser ini, Parchestra mengajak penonton untuk merefleksikan ulang makna “menjadi manusia” di tengah tingginya tuntutan produktivitas, dominasi teknologi algoritma, dan krisis ekologis. Di mana batas kemanusiaan dipertanyakan ketika sejarah mencatat betapa mudahnya sesama manusia kemudian saling me-dehumanisasi. Sebuah konser yang menjadi ruang kontemplatif terhadap isu-isu manusia kontemporer dan alienasinya. Untuk pertama kalinya di dunia, konser ini juga menampilkan sebuah karya yang mengkolaborasikan musik tanaman dan praktik live coding dengan orkestra. |
Selain pertunjukan konser orkestra, Parchestra juga telah menyelenggarakan program kuliah-konser (concert lecture) pada tahun 2025 bertajuk Brassology. Hal ini merupakan perwujudan nyata dari kontribusi Parchestra dalam ranah pendidikan (Yusuf S, Elaine, Fauzie).
.






