Nyeker, Simbol Kesatuan Manusia dan Alam di Tengah Modernitas

Nyeker, secara umum kita pahami sebagai sebuah bentuk aktivitas fisik tanpa menggunakan alas kaki. Di zaman modern saat ini, menggunakan alas kaki, seperti sepatu atau pun sandal sudah menjadi kebiasaan dan standar dari menjalani aktivitas termasuk menjadi bagian dari anjuran kesehatan. Dalam masyarakat modern saat ini, nyeker dipandang sebagai hal yang kurang relevan karena dapat merusak kaki dan menghambat kegiatan aktivitas keseharian. Masyarakat modern yang setiap kali keluar rumah memakai alas kaki, akan merasa tidak nyaman dalam menjalani kesehariannya dengan nyeker. Menginjak tanah akan dipandang sebagai hal yang mengotori kaki, menginjak kerikil dipandang sebagai hal yang menyakiti kaki, menginjak aspal dipandang sebagai hal yang dapat merusak tekstur telapak kaki, belum lagi banyaknya sampah berserakan di jalan, serpihan kaca, dan panasnya sinar matahari yang membuat nyeker tampak sebagai hal yang kurang relevan dan praktis. Namun, di tengah pandangan tersebut, Sanggar Reak Tibelat sebagai komunitas seni yang berfokus pada kesenian Sunda, setiap tahunnya tetap mengadakan acara Nyeker sebagai bagian dari tradisi dan ekspresi budaya mereka. Fenomena mengenai keberlanjutan praktik berjalan tanpa alas kaki di tengah masyarakat modern ini menjadi hal yang menarik untuk dikaji.

Kegiatan Nyeker, terutama di pegunungan, memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Secara medis, penelitian yang dilakukan oleh Taehun Kim dan Dae Yun Seo, menunjukkan bahwa kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di permukaan alami (tanah dan rumput) secara rutin dapat memberikan pengaruh pada fungsi otak dan suasana hati. Penelitian ini dilakukan dengan 60 siswa SMA. Para siswa dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukan eksperimen dengan berjalan tanpa alas kaki 30 menit per hari, 3 kali seminggu selama 12 minggu. Kelompok kedua berjalan dengan sepatu dalam durasi dan frekuensi yang sama. Kedua kelompok tersebut diuji secara kognitif, gelombang otak, dan skala stres psikologis dan suasana hati. Hasil dari eksperimen tersebut menunjukkan bahwa kelompok tanpa alas kaki mengalami peningkatan skor lebih tinggi dalam tes konsentrasi dan kecepatan berpikir, terjadi peningkatan gelombang otak beta, gamma, dan alfa (yang muncul saat tubuh berada dalam keadaan rileks), penurunan stres, dan peningkatan suasana hati positif. Dengan demikian, berjalan tanpa alas kaki terbukti tidak hanya menenangkan pikiran, tapi juga dapat meningkatkan fungsi otak dan kesejahteraan psikologis.

Selain memberikan manfaat dalam segi medis, kegiatan nyeker juga membawa manfaat secara ekologis. Berjalan tanpa alas kaki mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati dan sadar terhadap setiap langkah yang hendak dipijaknya. Hal ini menumbuhkan  kewaspadaan dalam berpijak karena perlu memperhatikan tekstur tanah, makhluk hidup kecil, rerumputan berduri, jamur, dsb. Kewaspadaan dalam berpijak secara tidak langsung membantu menjaga kelestarian alam. Sebaliknya, individu yang memakai sepatu cenderung kurang memperhatikan dataran serta makhluk hidup kecil di sekitarnya. Secara jangka panjang, memakai sepatu dapat mengikis dan merusak tanah. Pijakan dengan sepatu, terutama sepatu dengan sol keras, dapat menekan partikel tanah (pemadatan tanah) yang membuat udara dan air menjadi susah untuk masuk. Udara dan air yang susah untuk masuk ke dalam tanah membuat aktivitas mikroorganisme tanah menurun dan membuat akar tanaman menjadi sulit untuk bertumbuh. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa nyeker merupakan bentuk dari merawat alam (YS,2026).  

Baca lebih lanjut, silahkan klik: MAHASISWA BERSUARA: Nyeker, Simbol Kesatuan Manusia dan Alam di Tengah Modernitas

__________

Penulis: Gregorius Andrian Ajikusuma Dam Albertius Valerian
Artikel lengkap telah tayang di  https://bandungbergerak.id/

Berita Terkini

Latest News

Keraton Pakwan-Pajajaran

Kajian budaya sering kali berhadapan dengan paradoks antara kelangkaan bukti material dan kelimpahan ingatan kolektif. Dalam konteks sejarah Sunda, hal ini tampak jelas pada Kerajaan Pajajaran. Di satu sisi, peninggalan fisik yang dapat diverifikasi secara arkeologis...

Pantun Bogor, Sekularitas Lama, dan Imajinasi Pemerintahan Sunda

Kajian budaya kerap membuka jalan untuk memahami bagaimana masyarakat masa lalu menata hidup bersama, membangun sistem nilai, serta merumuskan relasi antara kekuasaan dan spiritualitas. Dalam konteks budaya Sunda, salah satu sumber refleksi yang menarik adalah tradisi...

Abdimas untuk NTT: Kolaborasi Menuju Kesejahteraan

Beberapa waktu terakhir, isu seputar Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjadi sorotan dalam dunia pendidikan Indonesia. Perbincangan ini menyentuh aspek hak dan kewajiban penerima beasiswa, tanggung jawab moral, nasionalisme, serta komitmen untuk berbakti...

Eksploitasi Sumber Daya Alam, Sebuah Pilihan Sulit di Tengah Ekologi Sosial

Eksploitasi alam selalu punya dampak merusak karena ada kehidupan yang diambil, dibuang, bahkan dipaksa untuk mati.  Sudah lama kita telah meyakini apa yang disebut sebagai saintisme kearifan lokal. Kepercayaan berlebih terhadap sains sebagai satu-satunya...

FF Unpar Gelarkan Program ABDIMAS: Tanamkan Pola Pikir Kritis dan Inklusi Sosial pada Siswa SMA

Pola pikir kritis dan ilmiah merupakan fondasi penting yang perlu diperkenalkan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini krusial dalam membentuk kepribadian peserta didik yang unggul, sebagaimana yang diupayakan oleh Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan...

Video

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Wisma Bintang Timur, Pangandaran

https://youtu.be/0PX86ALx7sE?si=Htfw90n4SVWL-2V9

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Ciamis

https://youtu.be/DXfygJrDTkg?si=UCxoFypBeKCDXX_H

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Desa Batukaras, Kab. Pangandaran

https://youtu.be/lOTant432m0?si=xRzxWlAdSKGbrMde

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Ciamis

https://youtu.be/nKfVC6dVXEc?si=UgHJu2dbgkGGHIYb