Di tengah hangatnya suasana menjelang dan selama bulan suci Ramadhan, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggelar acara Buka Puasa Bersama yang sarat makna. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah perwujudan nyata dari komitmen akademik untuk menghidupi nilai-nilai dasar universitas, khususnya dalam semangat keberagaman dan persaudaraan. Yang istimewa dari momen tahun ini adalah inisiatif yang tumbuh secara organik dari hati Tenaga Kependidikan Fakultas Filsafat, menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan kebersamaan di Unpar tidak hanya berasal dari pimpinan atau dosen, melainkan merasuk dalam setiap elemen komunitas akademik.

Buka Bersama, keberagaman bukan lagi sekat yang memisah, melainkan jembatan suci yang menguduskan persaudaraan dalam cinta kasih dan kebenaran
Acara yang berlangsung khidmat ini dikoordinasi langsung oleh Bapak Yosef Ari Novianto, yang bersama rekan-rekan tenaga kependidikan lainnya—Antonius Lilik Sugiharto, Maria Teresia Sri Prihatiningsih, Wilhelmus Freksi Kurniadi, dan Alvianita Constantina B.B. Pitmery Tokanyang—bahu-membahu mempersiapkan segala kebutuhan agar momen ini berjalan lancar. Semangat kolaborasi mereka mengundang kehadiran para pemimpin fakultas, turut hadir Deputi Dekan Fakultas Filsafat, Dr. Rudi Setiawan, S.Ag., M.M., serta Dekan Fakultas Filsafat, Pastor Onesius Otenieli Daeli, S.S., M.Hum., Ph.D. (yang akrab disapa Pst. Ote). Kehadiran para pimpinan yang duduk bersama dengan seluruh stakeholder lembaga—termasuk satuan keamanan dan kebersihan, serta beberapa dosen yang turut hadir—menegaskan bahwa Fakultas Filsafat adalah satu tubuh yang utuh. Dalam acara ini, setiap peran dihargai setara; tidak ada sekat hierarki, yang ada hanyalah rasa syukur dan keinginan untuk merayakan kebersamaan dalam bingkai keluarga besar Unpar.
Landasan spiritual dari pertemuan ini berakar kuat pada SINDU (Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar Universitas) yang bersumber dari Spiritualitas Pendiri, Sesanti Unpar, semangat Caritas in Veritate, serta kearifan lokal Tatar Sunda. Segala gerak langkah komunitas akademik ini dipandu oleh Sesanti Unpar, “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti”, yang bermakna “Berdasarkan Ketuhanan, menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat”. Dari sumber-sumber luhur tersebut, lahirlah tiga nilai dasar yang menjadi napas kegiatan ini: Manusia yang Utuh (Humanum), Cinta Kasih dalam Kebenaran (Caritas in Veritate), dan yang paling menonjol dalam momen ini adalah Hidup dalam Keberagaman.
Buka Bersama menjadi medan talasilaturahmi yang konkret untuk menghidupi nilai keberagaman tersebut. Perhatian dan penghargaan antarindividu menjadi warna utama saat Dosen, Tenaga Kependidikan, Deputi Dekan, Dekan, hingga staf keamanan dan kebersihan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Mereka saling menghormati dalam perbedaan iman dan latar belakang, mempraktikkan “Hidup dalam Keberagaman” bukan sekadar sebagai wacana seminar, tetapi sebagai pengalaman hidup yang dimakan bersama dalam suapan berbuka. Inilah esensi dari humanum; melihat wajah Allah dalam diri sesama yang berbeda, dan mengikatnya dengan cinta kasih yang nyata.
Sebagai rumah bagi pemikiran kritis, Fakultas Filsafat membawa kedalaman refleksi dalam acara ini. Buka Bersama disimak bukan hanya sebagai aktivitas biologis menghilangkan lapar, tetapi sebagai simbol ‘perjamuan’. Dalam tradisi Kristiani, perjamuan terakhir (The Last Supper) adalah peristiwa sentral iman yang terus menjadi napas beriman. Ekaristi bukan sekadar makan bersama, melainkan kesatuan Tuhan dengan manusia, dan persekutuan antarmanusia melalui tubuh dan darah Kristus. Menariknya, terdapat paralelisme spiritual yang mendalam dalam momen ini. Jika Ekaristi menjadi wadah perjumpaan dan kesatuan manusia dengan Sang Pencipta, demikian pula Buka Puasa. Momen berbuka mempersatukan keutuhan manusia (humanum) dalam suasana kepatuhan spiritual. Puasa mengingatkan manusia akan kesadaran atas kelemahan dirinya sebagai makhluk fana. Saat azan berkumandang dan kurma disantap, ada ketundukan yang sama di hadapan Yang Maha Kuasa.
Tahun ini, momentum spiritual menjadi semakin istimewa. Terdapat kesiringan waktu di mana tradisi puasa dalam Islam (Ramadhan) dan masa puasa/prapaskah dalam Kristiani dijalankan secara relatif bersamaan. Peristiwa kesiringan ini menjadi simbol atau pratanda bahwa kita, siapapun itu, tetaplah sama: makhluk fana. Kesementaraan hidup selalu diingatkan dalam peristiwa puasa, baik dalam Islam maupun Kristiani. Lapar yang dirasakan, dahaga yang ditahan, adalah bahasa universal yang menyatukan kemanusiaan kita di hadapan Tuhan.
Harapan besar dari acara yang diprakarsai oleh tenaga kependidikan dan didukung penuh oleh pimpinan fakultas ini adalah agar perjumpaan tersebut bukan sekadar seremoni belaka. Lebih dari itu, ini adalah perjumpaan kalbu. Sebuah silaturahmi yang semakin mengkhuduskan satu sama lain. Melalui SINDU dan semangat Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, Fakultas Filsafat Unpar berkomitmen untuk terus menjadi ruang di mana kebenaran dicari, cinta kasih dihidupi, dan keberagaman dirayakan dalam satu meja persaudaraan. -ICS- (Yusuf S).


