Sekelumit Pengantar
Saya kembali lagi, melanjutkan tulisan dan ulasan saya tentang buku Eric Weiner yang sudah saya singgung minggu yang lalu. Tetapi belum sempat saya lanjutkan karena satu dan lain hal menyangkut hidup pribadiku sendiri. Untuk melanjutkan ulasan itu, saya mulai dengan sebuah pernyataan yang kemarin sempat disinggung secara sekilas oleh Werner sendiri saat meluncurkan buku itu di AUDITORIUM PPGA-UNPAR yang megah itu.
Pertanyaan itu ialah, apa itu agama? Pertanyaan ini amat penting karena tampaknya agama itu sangat penting dan sangat dominan dalam hidup manusia. Semua orang sibuk dengan agama. Bahkan ada yang sedemikian sibuknya, sampai tampak seperti mabuk agama. Atau mungkin juga mabuk surga yang ditawarkan agama-agama. Atau mungkin mabuk Tuhan yang diyakini agama-agama. Apapun itu, pokoknya, agama tampak menjadi sebuah obsesi manusia. Manusia terobsesi agama.
Beragam Definisi Agama-agama
Nah, kembali lagi ke pertanyaan itu: Apa itu agama? Ada banyak definisi mengenai agama itu. Saya tidak akan mengulasnya satu per satu di sini. Salah satu yang terkenal ialah definisi berdasarkan analisis tentang etimologi kata agama dalam pelbagai bahasa-bahasa Barat, yaitu religio, atau religion. Kalau dalam bahasa Latin, salah satu analisis etimologisnya ialah bahwa religio itu mempunyai fungsi dasar untuk mengikat-satu-kan kembali segala sesuatu, re-ligare. Jadi, agam adalah mengikat-satukan, mempersatukan.
Tetapi rupanya, ada yang tidak puas dengan wacana seperti itu, apalagi jika melihat faktanya yaitu bahwa agama-agama justru memecah-belah, membawa pertengkaran, membawa perpecahan. Oleh karena itu, para ahli mencoba mencari cara penjelasan dan pemahaman yang lain. Salah satu yang sempat dikutip oleh Weiner ialah tokoh seperti William James.
Menantang dan Melampaui William James
Dalam studi agama-agama, tokoh ini termasuk salah satu tokoh yang amat terkenal karena sebuah bukunya yang sudah sangat klasik dalam bidang studi agama-agama. Bukunya sendiri sudah terbit seabad lebih yang silam. Tepatnya, buku itu terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1902 di Amerika. Judul buku itu ialah Varieties of Religious Experiences. Judul itu dapat diterjemahkan demikian: Pelbagai Macam Pengalaman-pengalaman Keagamaan.
Nah judul ini, dalam petualangan dan pencarian intelektual Weiner langsung menarik perhatiannya. Itu langsung terasa sangat mencolok. Mengapa demikian? Karena kata experiences itu. Agama agama adalah pengalaman, atau tepatnya untaian pengalaman-pengalaman. Artinya tidak hanya satu pengalaman. Melainkan beragam pengalaman.
Agama Adalah Pengalaman
Dalam kaitan dengan ini, agama bukan pertama-tama ajaran-ajaran, kumpulan ajaran-ajaran, atau rangkaian dogma, aturan-aturan moral. Bukan terutama itu. Walaupun mungkin semua orang memikirkan tentang hal itu, tetapi bagi William James, agama tetaplah berbasis pada pengalaman. Definisi dan pemahaman tentang agama harus dikembalikan kepada foundasinya yaitu pada pengalaman. Bagi James seakan-akan berlaku perkataan: Pada awal mula adalah pengalaman. Atau bahkan menekankan apa yang disebut the primacy of experience, even of a new experiences.
Dan Eric Weiner sangat sepakat dengan pendapat dan pandangan William James itu. Tetapi masalahnya ialah, masih dalam penilaian dan pandangan Weiner, bahwa William James itu, mencoba merumuskan pemahamannya tentang Pengalaman Beragama dari dan dalam masing-masing agama, dari suatu situasi yang berjarak. Semacam, arm-chair anthropology-nya yang dikritik oleh Bronislaw Malinowski itu. Artinya, William James, mengamati semuanya itu dari kejauhan, dari sebuah jarak tertentu.
Melampaui Dengan “Mengoreksi”
Nah Eric Weiner mau “mengoreksi” William James. Memang semula ia seperti merasa ditantang oleh James, tetapi akhirnya sekaligus ia juga melampaui James. Dalam istilah saya, jika tendensi James dalam buku ini ialah deskriptif belaka, melukiskan dari jauh, dari satu situasi berjarak, dari sebuah ruang kenyamanan tertentu, maka tendensi yang mau disandingkan oleh Weiner dalam rangka “mengoreksi” James ialah aksi eksploratif. Deskripsi pengalaman orang, bagi Weiner sama sekali tidak memadai. Orangnya sendiri harus masuk ke dalam dan mengalami ruang pengalaman itu. Itulah yang dibuat oleh Weiner dalam bukunya ini.
Yang terutama dimaksudkan dengan eksplorasi di sini ialah suatu keterlibatan dan pengalaman secara langsung dalam ruang atau lautan pengalaman beragama dari salah satu kelompok agama. Dan bukan, seperti halnya William James, hanya berdiri dari jauh sebagai seorang pengamatan yang memang mengamati, tetapi tidak terlibat, paling tidak begitulah Weiner menilai James.
Memilih Ruang-ruang Pengalaman Agama-agama
Dalam rangka itu, Weiner tentu harus memilih agama-agama apa saja yang akan ia masuki ruang atau samudera pengalamannya. Sebab masih dari acara peluncuran buku kemarin, kata Weiner, di dunia ini ada hampir sepuluh ribuan agama. Kalau harus dieksplorasi semuanya, tentu tidak akan cukup waktu, karena singkatlah hidup manusia, sementara luaslah ruang pengalaman yang harus diarungi. Religio longa, vita brevis, Agama sangat panjang, sementara hidup itu singkat saja.
Oleh karena itu, mau tidak mau Eric Weiner harus memilih. Dan itupun bukan suatu hal yang mudah. Setelah melalui proses seleksi yang tidak ringan, akhirnya Eric memutuskan untuk “mengalami” delapan agama saja. Yaitu ia memilih untuk mengalami Islam, Buddhisme, Kristiani, Raelisme, Taoisme, WICCA, Shamanisme, Yahudi.
Pilihan Yang Lebih Menukik
Karena di dalam delapan kelompok ini masih ada lagi pelbagai macam kelompok dan varian aliran, maka sekali lagi dan lagi-lagi, Eric harus memilih. Dalam Islam, akhirnya ia memilih untuk mengalami Sufisme yang dipandangnya sebagai representasi Islam. Dalam Buddhisme, ia memilih untuk menyelami, mengarungi varian Buddhisme Nepal. Di dalam tradisi Kristiani, Eric memilih untuk mengarungi ruang pengalaman para Fransiskan revivalis di New York.
Selanjutnya ia masuk ke dalam ruang pengalaman salah satu agama baru yang disebut Raelisme. Semoga nanti pada waktunya saya bisa mengulas tentang hal ini lebih jauh lagi. Kemudian ia mencoba masuk ke dalam ruang pengalaman salah satu agama klasik China, yaitu Taoisme. Sesudah itu ia masuk ke dalam ruang pengalaman para penganut WICCA. Saya juga berharap nanti bisa mengulas hal ini lebih jauh.
Sesudah itu ia masuk ke dalam ruang pengalaman Shamanisme yang dipandang sebagai sebuah “agama” paling tua di dunia ini. Sedemikian tuanya sehingga bahkan banyak agama-agama modern masa kini, masih mewarisi sesuatu dari warisan klasik shamanisme itu, diakui ataupun tidak. Akhirnya, Eric mencoba masuk ke dalam ruang pengalaman agama Yahudi, secara khusus dalam varian Kabbalah. Tentang hal terakhir ini saya masih akan mencoba menulis sesuatu secara lebih panjang lagi pada kesempatan lain.
Sekelumit Catatan Penutup
Saya mau menutup ulasan sekilas pintas, selayang pandang ini dengan mengutip beberapa orang pemikir. Salah satunya ialah Gabriel Marcel. Marcel berkata bahwa manusia adalah makhluk yang sedang berada di dalam perjalanan, atau Homo viator, dalam istilah dia. Tetapi sang Homo viator itu, dalam bingkai pemikiran filosofis Marcel, berangkat dari titik berangkat tertentu di dalam peziarahan ini, dan juga akhirnya tertuju atau bermuara pada titik tuju tertentu di dalam ziarahnya.
Rasanya, menurut pengamatan saya, Eric Weiner tidak dapat dikategorikan dalam kategori homo viator Marcel ini, sebab Weiner tidak mempunyai titik berangkat, dan sebenarnya dalam artian ketat juga tidak mempunyai titik tuju. Barangkali istilah yang paling tepat bagi Weiner ialah homo mobilis, manusia yang terus menerus bergerak-dan-bergerak, tidak pernah berhenti. Mungkin titik atau ruang hentinya ialah keabadian itu sendiri. Dan mungkin dia ada benarnya.
Dan dalam hal ini, ia sangatlah Agustinian dan karena itu juga sangat Fransiskan (sebab keduanya berada pada garis sambung yang sama). Sebagai sebagaimana halnya Agustinus selalu merasa resah dan gelisah dan karena itu terus menerus mencari, sampai akhirnya ia menemukan titik dan ruang hentinya di dalam dia yang membuat hatinya menjadi tenang. Tiada lagi gelisah. Tiada lagi resah. Cor meu inquietum est, donec requiescat in Te. Kiranya Eric Weiner mempunyai ruang rasa dan ruang pengalaman resah-gelisah seperti itu juga. Dan ia sedang mencari titik dan ruang hentinya. (YS@2026)
Taman Kopo Indah.
Dr. Fransiskus Borgias, M.A.
(turut mengenang)


