Menjadi seorang pengaba (conductor/dirigen) tidak hanya menuntut penguasaan teknis—seperti postur tubuh, gesture yang jelas, dan ketepatan irama—tetapi juga kemampuan mendalam dalam melatih, menyatukan, dan menginspirasi musisi agar tampil secara utuh dan harmonis. Sayangnya, dimensi krusial ini—kemampuan membina, meramu, dan memimpin ensambel menuju performa yang optimal dan bermakna—sering kali kurang mendapat perhatian yang layak.
Belajar secara terstruktur sangat penting untuk membentuk pengaba yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu memimpin dengan visi artistik dan kepekaan kemanusiaan. Pendidikan formal menyediakan ruang untuk mengasah intuisi artistik sekaligus memperkuat dasar teoretis dan praktis dalam memimpin ensambel.
Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan (UNPAR), misalnya, menyelenggarakan Program Studi Integrated Arts atau Studi Humaniora, yang menggabungkan filsafat, estetika, dan praktik seni secara holistik. Salah satu mata kuliah unggulannya adalah Pengaba, yang melatih bukan hanya teknik mengarahkan orkestra atau paduan suara, tetapi juga kesadaran etis, kepekaan budaya, dan kemampuan kolaborasi—menjadikan setiap pertunjukan sebagai pengalaman bermakna, bukan sekadar tampilan teknis..
Praktikum Pengaba Orkestra dan Paduan Suara ini merupakan bentuk dari Ujian Akhir Semester bagi mahasiswa prodi Integrated Arts UNPAR dan peserta kelas terbuka, dalam kelas “Memimpin Orkestra atau Paduan Suara” yang diampu oleh Gregorius Gerald Pratomo, B.Mus., M.Mus. , yang diselenggarakan pada :
📆 Sabtu, 10 Januari 2026
🕢 10.00 – 12.00 (Praktikum Pengaba Orkestra)
🕢 13.00 – 17.00 (Praktikum Pengaba Paduan Suara)
📍 Fakultas Filsafat UNPAR, lt. 1.
Jl. Nias no. 2, Bandung.
🎟 GRATIS untuk umum, sebagai peserta pasif.
🔗 Reservasi : https://bit.ly/PraktikumPengabaGanjil2526
(Kuota Sangat Terbatas)


