Rabiah—bukan nama sesungguhnya—duduk tenang menanti sesi logoterapi hendak dimulai. Di ruangan tersebut, ia bersama lima rekan sesama perempuan berbagi cerita dengan akrab. Senyum tersungging di wajah perempuan berkerudung hitam itu sesekali mengembang, menandakan adanya kehangatan yang terjalin di antara mereka. Dinginnya udara AC ruangan ternyata tidak mampu membekukan semangat dan kedekatan emosional yang terbangun pagi itu. Pada Kamis, 23 Mei 2024, Rabiah mengikuti sesi keempat dari rangkaian logoterapi yang merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat (Abdimas) Fakultas Filsafat (FF) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Klinik Teratai Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang berlokasi di Jalan Sukarno Hatta No. 496, Kota Bandung.


Di sela-sela proses terapi yang mendalam, air mata Rabiah kadang menetes deras. Luka masa lalu yang membawanya terlibat aktif di komunitas aktivis HIV seolah kembali terbuka. Status positif HIV yang disandangnya diketahui setelah sang suami divonis mengidap HIV Stadium 3 pada 2018 lalu. “Satu bulan kemudian, suami meninggal,” kenang Rabiah kepada BandungBergerak. Hingga kini, HIV masih dianggap sebagai penyakit paling menakutkan bagi sebagian masyarakat. Selain dampak fisik yang melemahkan sistem imun, stigma sosial yang melekat masih sangat kuat. Rabiah menggambarkan momen mengetahui status positifnya bak tersambar petir di siang bolong. Namun, ia sadar bahwa berlarut dalam kesedihan bukanlah solusi. Hidup harus terus berjalan, terutama karena ada anak-anak yang harus dibesarkan menuju masa depan yang menjanjikan, meski sang ibu telah divonis positif mengidap human immunodeficiency virus (HIV) yang hingga saat ini belum ada obat penyembuhnya.
Rabiah kemudian berani melakukan tes pada anak-anaknya. “Alhamdulillah, saya sujud syukur, anak-anak negatif. Ini semangat baru, cuma saya yang kena, anak-anak engga. Ibunya harus sehat dan melanjutkan hidup,” ungkapnya penuh syukur. Semangat demi anak-anak mendorong Rabiah belajar lebih banyak tentang HIV dan AIDS. Ia rela bepergian jauh dari timur Bandung ke Gegerkalong mengunjungi Rumah Cemara. Di sana, ia bertemu sesama penyintas, berbagi pengalaman tentang obat-obatan, stigma, dan diskriminasi. “Aku bertemu dengan teman yang sesama, mereka sehat, mereka bisa. Kenapa saya engga?” tuturnya. Rasa ingin tahu tentang hak-hak Orang Dengan HIV (ODHIV) membawanya terlibat dalam Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, mendampingi ibu hamil positif HIV. Baginya, vonis HIV bukan akhir segalanya.
Di Kota Bandung, kasus HIV pertama kali dilaporkan pada 1991 dengan akumulasi kasus hingga 2021 mencapai 5.843 kasus. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Ibu rumah tangga menjadi rentan terpapar dari suami yang berada dalam posisi rentan. Ketua Sekretariat KPA Kota Bandung, Sis Silvia Dewi, menjelaskan bahwa pendataan dilakukan berdasarkan profesi untuk strategi penanggulangan. Data menunjukkan karyawan swasta mendominasi kasus sebanyak 30 persen, disusul wiraswasta 15 persen, ibu rumah tangga 11 persen, dan mahasiswa 6,97 persen.
Kembali pada sesi terapi, “Selamat pagi, ibu-ibu dan teteh-teteh, bagaimana kabarnya? Sehat semua kan?” sapa Wilfridus Demetrius, Ketua Program Pengabdian Masyarakat FF Unpar. Wilfridus menjelaskan bahwa pertemuan keempat ini menggunakan media kendi dan cat minyak. “Kita akan kembali memulai kegiatan hari ini, kembali memaknai kehidupan kita,” lanjutnya. Peserta diminta melukis kendi, kemudian memecahkannya, dan menyusun kembali serpihannya. Fandi Gilar, dosen pendamping, memandu relaksasi. “Pejamkan matanya, betapa lucunya ketika kita kecil yang bebas tanpa beban… Tapi semua itu harus hancur karena satu luka, luka tersebut yang perlu kita berdamai, maka berdamailah dengan diri sendiri,” ujar Fandi.
Diiringi lagu Tulus “Manusia-manusia kuat itu kita”, Rabiah menorehkan warna merah, kuning, biru, dan putih di permukaan kendi bata merah. Hampir 20 menit mereka melukis hingga kendi polos menjadi cantik. Namun, setelah selesai, mereka diperintahkan memecahkan kendi yang telah dihias. Kendi pecah bersamaan dengan meledaknya tangisan. Rabiah berlinang air mata. “Hidup bukan soal akhir, dan kita bisa menyusun keping-keping yang pecah ini menyatu kembali,” ujar Wilfridus menenangkan.
Rabiah merasa program ini berbeda. Wilfridus Demetrius Siga menegaskan pendampingan ini fokus pada pemaknaan hidup. Dosen lainnya, Ester, menuturkan bahwa logoterapi merupakan bagian dari rehabilitasi sosial yang dikembangkan oleh neurolog dan psikiater asal Austria, Victor Frankl, yang selamat dari Holocaust. Metode ini memiliki tahapan. Pertama, relaksasi untuk kenyamanan penderita. Kedua, intensitas paradoksal untuk menceritakan dan melihat penderitaan. Ketiga, pertanyaan Socrates untuk refleksi diri. “Misalnya dengan pertanyaan mengapa aku sampai menderita seperti ini… lebih ke refleksi,” ujar Ester. Tahapan ini membantu menemukan makna hidup yang lebih baik.
Kaum hawa dengan HIV dipilih karena respons penderitaan mereka berbeda, terutama sebagai ibu. “Kami melihat ibu-ibu ini terkena sebagai orang yang terjangkit virus HIV ini, mereka ternyata perlu juga… ada yang sudah menerima dan bersyukur,” beber Ester. Tahap terakhir disimbolkan dengan kendi yang dipecahkan dan dirangkai kembali. “Untuk memaknai kehidupan, kita tetap butuh orang lain… ketika orang lain ikut merasakan, mendampingi kita, ternyata itu bisa menjadi termotivasi untuk hidup,” ucap Ester. Logoterapi yang digagas oleh FF Unpar melalui Program ABDIMAS dan didukung oleh Pusat Studi CPCReS ini diharapkan terus dilanjutkan oleh para ODHIV di lingkungan sosial. Dengan demikian, mereka tidak hanya pulih secara psikologis, tetapi juga bisa berkontribusi secara sosial kepada masyarakat luas, menghapus stigma, dan menunjukkan bahwa hidup tetap bermakna meski telah melewati kehancuran (YS,2026).
Disadur dari: Cerita Para Perempuan ODHIV Menyusun Kembali Pecahan-pecahan Hidupnya
Sumber: BandungBergerak


