Fakultas Filsataf — Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan menyelenggarakan acara “Apresiasi untuk Dosen Purna Bakti dan Pengutusan Tendik ke Unit Baru” pada Jumat (27/2/2026) di Kampus Jln Nias 2. Kegiatan ini dihadiri oleh dosen tetap, dosen kontrak, dosen luar biasa, tenaga kependidikan, perwakilan mahasiswa, serta unsur mitra kerja fakultas.
Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh penghargaan. Momen ini menjadi ruang reflektif untuk mengenang perjalanan pengabdian akademik para dosen senior sekaligus menegaskan pentingnya regenerasi dalam kehidupan universitas. Dua dosen yang memasuki masa purna bakti, yakni Pastor Fabianus S. Heatubun dan Bapak Joko Pranowo, mendapat apresiasi atas kontribusi panjang mereka dalam pengembangan keilmuan dan tata kelola akademik.
Dalam kesempatan yang sama, Bapak F.X. Galih Kurniawan dilepas untuk menjalankan tugas baru di unit lain. Pengutusan tersebut dipandang sebagai bagian dari dinamika institusional yang menuntut adaptasi, kesinambungan, serta penguatan kerja sama lintas unit di lingkungan fakultas.
Acara diisi dengan sambutan pimpinan fakultas, penyampaian kesan dan pesan dari para tokoh yang dilepas, serta ramah tamah bersama seluruh undangan. Kebersamaan yang terbangun pada momen tersebut memperlihatkan kuatnya relasi akademik yang terbentuk selama bertahun-tahun.
Refleksi dalam Perspektif Tiga Tokoh
1. Produktivitas, Kebijaksanaan, dan Regenerasi
Pastor Fabianus menyoroti makna pensiun dari sudut pandang historis dan filosofis. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Barat, praktik pensiun berkembang dari kebutuhan menjaga produktivitas sosial. Di Eropa, sistem pensiun awalnya diterapkan dalam dunia militer sebagai bentuk penghargaan sekaligus upaya menjaga efektivitas institusi.
Dalam konteks modern, terutama di Amerika Serikat, pensiun dipahami sebagai mekanisme membuka ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam dinamika ekonomi dan sosial. Pergantian tenaga kerja dipandang sebagai strategi mempertahankan daya inovasi masyarakat.
Namun demikian, Pastor Fabianus menekankan bahwa dunia Gereja Katolik menunjukkan perspektif berbeda. Kepemimpinan gerejawi kerap diemban oleh pribadi yang telah mencapai kematangan usia, karena pengalaman hidup diyakini memperdalam kebijaksanaan moral dan refleksi spiritual.
Pandangan tersebut relevan pula bagi bidang filsafat dan teologi. Kapasitas intelektual tidak selalu menurun seiring usia. Justru akumulasi pengalaman akademik dapat memperkaya kedalaman analisis dan ketajaman pemikiran. Oleh sebab itu, kebijakan pensiun akademisi perlu dipahami sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kebijaksanaan generasi senior dan kebutuhan regenerasi ilmiah.
2. Relasi Akademik dan Semangat Berkarya
Bapak Joko menyampaikan refleksi personal mengenai perjalanan panjangnya di lingkungan universitas. Ia mengenang eratnya relasi antar dosen sebagai salah satu pengalaman paling berharga. Kedekatan tempat tinggal dengan sejumlah kolega memungkinkan terjadinya interaksi akademik intens yang memperkaya diskusi dan kerja sama.
Ia juga menyoroti figur-figur pimpinan yang meninggalkan kesan mendalam melalui sikap terbuka dan komunikatif. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman bahwa atmosfer akademik yang sehat bertumpu pada relasi personal yang saling menghargai.
Mengulas kembali masa awal bergabung pada dekade 1990-an, Bapak Joko menegaskan bahwa proses adaptasi dan pembelajaran menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas profesional seorang dosen.
Sebagai pesan bagi generasi muda, ia menekankan pentingnya menjaga semangat berkarya. Dosen muda diharapkan terus menghasilkan pemikiran dan kontribusi ilmiah terbaik. Menurutnya, semangat pengabdian para dosen senior hendaknya menjadi inspirasi untuk memperkuat komitmen akademik di masa depan.
3. Solidaritas Institusional dan Tantangan Pengembangan
Bapak Galih mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan berkarya selama sebelas tahun di Fakultas Filsafat. Ia menilai perjalanan tersebut sebagai proses pembelajaran yang membentuk pemahaman mendalam tentang dinamika kerja institusi pendidikan tinggi.
Salah satu pengalaman penting yang dikenangnya adalah keterlibatan dalam penyusunan dokumen akreditasi fakultas. Proses kerja intensif tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan institusi lahir dari kolaborasi dan dedikasi kolektif.
Ia juga menekankan bahwa solidaritas antarunit merupakan kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tuntutan administratif dan akademik, seperti akreditasi lanjutan, implementasi standar mutu, serta penguatan tata kelola.
Dalam pesannya, Bapak Galih mengajak seluruh civitas akademika untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan yang telah terbangun. Ia berharap semangat kerja sama tetap menjadi landasan dalam menjawab tantangan pengembangan fakultas di masa mendatang.
Penutup
Suasana kebersamaan semakin terasa hangat ketika acara ditutup dengan sajian musik dari para frater. Lagu-lagu yang dipilih secara khusus menghadirkan nuansa penghargaan, kenangan, dan harapan baru bagi para dosen purna bakti maupun bagi seluruh keluarga akademik yang hadir. Iringan musik tersebut menjadi penanda simbolis bahwa perjalanan pengabdian tidak berhenti pada perpisahan, melainkan berlanjut dalam ingatan, inspirasi, dan regenerasi (YS,2026).


