Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan Jawa Barat terletak diantara perbukitan bagian tenggara Gunung Ciremai dengan ketinggian 453 meter, curah hujan rata-rata 100-200 ml dan suhu rata-rata 25- 30 0C, serta musim hujan yang cukup panjang kurang lebih selama 5 bulan dalam setahun. Jalan yang dilalui dari Cipasung, Kecamatan Darma hingga Subang merupakan ruas jalan yang saat ini dikembangkan oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat, menjadi jalan penghubung Kabupaten Kuningan ke Kabupaten Cilacap. Jalan sepanjang 57 kilometer tersebut akan menjadi penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah yang melewati Kecamatan Darma, Selajambe, Subang dan Cilebak.
Desa Subang memiliki keunikan, tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Mataram. Kuwu pertama di Desa Subang adalah R.M. Muryah Martapura atau Adipati Anom, yang merupakan putra kedua dari Panembahan Kerapyak atau Sesuhunan Anyakrawati Senopati Ingalaga Mataram Raja Mataran. Motto Desa Subang
adalah Sugri Walagri Malar Walatra yang artinya masyarakat yang sehat untuk menciptakan kesehatan lahir batin yang merata.
Letak desa yang cukup jauh dari pusat Kota Kuningan, mendorong banyak warga desa melakukan urbanisasi, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, maupun untuk mencari peluang pekerjaan yang tersedia di kota. Kebanyakan dari mereka kembali pada saat libur panjang, seperti lebaran, sebagaimana warga di negara ini pada umumnya.
Banyaknya warga yang melakukan urbanisasi, tidak berarti bahwa di Desa Subang tidak ada sumber daya alam yang dapat menjadi sumber pendapatan. Hasil kayu, kopi, gula aren dan hasil kebun lainnya, hingga saat ini masih menjadi penopang hidup. Produksi kayu di desa tersebut dihasilkan dari kebun-kebun warga, dan dijual kepada para pembuat kayu olahan. Sedangkan kopi, kebanyakan warga menjualnya kepada para pengepul yang berasal dari Ciamis. Kebun kopinya merupakan tanah milik sendiri dan sewa, baik kepada perorangan maupun kepada Perhutani. Jenis kopi yang dihasilkan mayoritas kopi robusta.
Gula aren pun menjadi komoditi primadona. Hanya keberlajutannya kurang karena permintaan gula aren paling banyak adalah pada bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, gula dibutuhkan sebagai bagian penting dari produk olahan khas bulan puasa. Pada Hari
Raya Idul Fitri, gula aren merupakan oleh-oleh bagi para perantau asal Desa Subang.
Pengembangan produksi gula aren memiliki tantangan tersendiri, karena semakin sedikitnya pohon kawung (enau) yang menjadi bahan utama pembuat gula aren. Banyak pohon kawung hilang karena ditebang dan dijadikan bahan utama pembuatan tepung kanji. Selain itu, para penyadap dan pembuat gula aren pun berkurang karena dianggap sebagai pekerjaan yang tidak mudah, dan diyakini sebagai keterampilan warisan. Komoditi lain yang berasal dari desa ini adalah kapolaga, rinu (kemukus), dan cengkeh.
BUMDES Subang dirintis sejak tahun 2012, dan resmi berdiri sejak 2014, dan memulai dengan usaha kolam pemandian air panas. Kolam Pemandian Air Panas Cipanas tersebut terletak di Dusun Cikadu, Desa Subang, Kecamatan Subang. Pemandian air panas tersebut dibangun padaa saat Desa Subang menjadi penerima manfaat Proyek Dana Desa Peradaban dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Merujuk pada Permendes No. 4 Tahun 2015 pasal 3 menetapkan bahwa tujuan pendirian BUMDES adalah untuk meningkatkan perekonomian desa, mengoptimalkan aset desa, pengembangan kerjasama usaha antara desa dengan pihak ketiga, menciptakan peluang dan jaringan pasar, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
perbaikan layanan umum, meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan Pendapatan Asli Desa (PAD). Pengelolaan kolam pemandian air panas masih menjadi andalan utama BUMDES.
Kerjasama Desa Subang dan Astra, akan menitikberakan pada pengembangan BUMDES sebagai holding (lembaga pengampu) usaha-usaha yang ada dalam kendalinya. Merujuk pada definisi UU ini, BUMDES mendorong secara penuh ketersediaan akses, partisipasi, pemberdayaan, dan keberlanjutan (pasal 3). Oleh karea itu, BUMDES harus dibangun dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan (pasal 87), yang berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya desa yang mendorong laju perekonomian desa.
ASTRA International melalui program Desa Sejahtera Astra (DSA), menggandeng UNPAR untuk melakukan kajian dan pendampingan BUMDES di Jawa Barat. Program ini tentunya juga sejalan dengan program Pemprov Jabar, one village one product, melalui jaringan kerjasama antara pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan masyarakat. Program DSA menargetkan 4 capaian Key Performace Indicators (KPI) yang meliputi: masyarakat terpapar program, peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja baru, dan jumlah produk terserap pasar.
Pendekatan yang digunakan dalam pendampingan peningkatan kapasitas dan tata kelola BUMDES adalah partisipatif melalui belajar bersama masyarakat, dan para pemangku kepentingan, untuk merencanakan pembangunan sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Hasil Kajian bersama BUMDES kemudian merujuk pada pengembangan kopi dan cara pengolahan yang professional. Berkat pendampingan partisipatif yang konsisten dan komitmen bersama yang dibangun oleh para pemerintahan desa, BUMDES, BPD, dan Karang Taruna, maka Astra kemudian beberapa kali mendukung dengan donasi alat pengolahan kopi. Sebagai branding kopi robusta yang dikembangkan oleh BUMDES dan dikelola oleh Karang Taruna diberi nama Giri Taruna (GITA).
Karang Taruna sebagai penanggung jawab operasional pengelolan kopi berkomitmen untuk menjadikan kopi Subang sebagai tuan rumah di Kabupaten Kuningan. Selain harganya yang bersahabat untuk semua kalangan, Kopi Gita rasanya nikmat dengan nuansa rindu yang selalu melekat untuk kembali bersilahturahmi.
Saat ini Kopi Gita memiliki tantangan dalam hal tata kelola usaha, kopi baik dari sisi kelembagaan, perencanaan bisnis yang matang dan berlanjut, dan
yang paling utama adalah rasa memiliki dan kebanggan sebagai produk lokal yang memiliki peluang besar.
Pelatihan dan pendampingan pegiat baru Kopi Gita. Bercermin dari segala dinamika dan tantangan, memperkenalkan dan mendekatkan Kopi Gita dengan komunitas kopi lain di Kabupaten Kuningan dan Jawa Barat, menjadi pekerjaan rumah yang wajib dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi tata kelola, tetapi juga memperluas jaringan. Pembuatan rencana strategis bisnis Kopi Gita, menempatkan BUMDES sebagai pengendali utama unit-unit bisnis, dan perluasan unit usaha dan proses pendampingan merupakan unsur yang berkelanjutan.
Tulisan ini ditulis oleh Willfridus Demetrius Siga dengan judul lengkap: “DESA SUBANG – KUNINGAN : MODEL PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DESA BERBASIS KEMITRAAN SWASTA DAN PERGURUAN TINGGI” dan merupakan bab dalam buku (book chapter) dari Bunga Rampai Desa Juara
Baca Sumber: klik gambar di bawah



