DESA-DESA PESISIR – PANGANDARAN : “GONDANG”, TRADISI HAJAT LAUT DAN IDENTITAS MASYARAKAT PESISIR PANGANDARAN YANG TETAP LESTARI

Tatar Pangandaran terkenal akan keindahan alam, yang menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Salah satu daya tarik dari Kabupaten Pangandaran adalah pantai-pantainya yang membentang menghadap laut Selatan. Kekayaan tempat ini bukan hanya terletak pada keindahan alamnya, namun juga pada kekayaan sejarah dan budaya.

Dinamika budaya melaut melahirkan kebudayaan nelayan yang sangat terikat dengan laut. Salah satu kebudayaan nelayan setempat adalah tradisi hajat laut. Hajat laut pada hakikatnya adalah upaya masyarakat nelayan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Tuhan, atas rezeki yang mereka terima.

Tradisi hajat laut dirayakan pada Jumat Kliwon dalam bulan Muharam. Pusat dari acara Hajat Laut adalah dongdang, yaitu sebuah keranda yang dihias sedemikian rupa, dan berbahan dasar kayu.

Acara hajat laut dimulai dengan pembuatan dongdang. Dalam dongdang ini terdapat berbagai macam persembahan, dari kepala binatang (ayam, kambing, atau kerbau), makanan, minuman, busana, dan perhiasan, ada juga mainan anak-anak, dan banyak objek lainnya.

Setelah dongdang dipersiapkan, dongdang tersebut akan diletakan pada tempat yang dianggap sakral dan sudah didekorasi. Di tempat itu akan dilakukan prosesi ijab oleh sesepuh, yaitu doa demi kelancaran acara.

Di zaman dahulu, setelah proses ini berlalu, maka pada malam itu juga dilaksanakan larungan dongdang atau persembahan ke laut. Seiring perkembangan zaman, proses larungan dongdang diadakan pada pagi keesokan harinya.

Proses menunggu hingga pagi ini disebut kemitan dongdang. Kemitan dongdang adalah acara dimana dongdang ditemani semalaman dengan serangkaian hiburan, dan silahturahmi hingga pagi. Pada pagi hari dilaksanakan kirab dongdang, di mana dongdang diarak oleh masyarakat bersama dengan sesepuh dan tokoh masyarakat.

Setelah dongdang disambut dengan ritual tertentu, kemudian dongdang dibawa ke tengah laut

untuk dilarungkan (dipersebahkan) kepada Sang Pemilik alam semesta. Setelah kembali ke pantai, masyarakat mengadakan ibadah syukur kepada Allah SWT, dan mengadakan makan bersama, serta hiburan yang menutup rangkaian acara.

Para sesepuh yang menurunkan tradisi hajat laut merasa bahwa ada klaim sepihak, yang berusaha memanipulasi makna dari tradisi hajat laut itu sendiri. Ada usaha untuk mencoba menetralisir simbol-simbol yang sebenarnya merupakan jati diri dari masyarakat setempat.

Para sesepuh melakukan modifikasi terhadap makna tradisi hajat laut bergeser menjadi syukuran nelayan. Syukuran nelayan merupakan modifikasi tradisi hajat laut, agar lebih mudah diterima oleh berbagai latar belakang. Dalam syukuran nelayan, para nelayan menabur atau menaruh rangkaian bunga di laut.

Hajat laut selalu diadakan pada Jumat Kliwon dalam Bulan Muharam. Perayaan hajat laut diadakan pada Bulan Muharam karena dianggap sebagai bulan yang baik dalam agama Islam. Dengan merayakan pada Bulan Muharam, maka di situ rasa syukur dipanjatkan atas tahun yang sudah berlalu dan untuk menyambut tahun baru.

Jumat Kliwon juga memiliki arti yang sakral bagi masyarakat setempat, mempertimbangkan juga bahwa

hari Jumat dihitung sebagai hari yang baik bagi agama Islam. Kritik terhadap hajat laut juga tidak memahami simbolisasi laut sebagai perempuan. Sebenarnya hal itu bukanlah upaya untuk menyeleweng dari iman.

Simbol dongdang pada hakikatnya adalah simbolisasi dari diri masyarakat itu sendiri dan segala aspek kehidupan yang terkait dengannya. Syukur kepada Sang Pencipta dinaikkan atas laut, dan segala makhluk yang tinggal di dalamnya, bukan dalam upaya menyimpang dari iman. Bagi para sesepuh, tradisi budaya adalah jati diri dari masyarakat.

Agama pun saling terikat dengan tradisi budaya masyarakat yang menganutnya. Merupakan sebuah kerugian besar jika kekayaan tradisi budaya sebagai jati diri masyarakat ini hilang atas kegagalpahaman. Hingga hari ini kita bisa melihat bahwa usaha untuk mempertahankan budaya hajat laut masih hidup. Dengan pendidikan mengenai budaya, serta penyelenggaraannya setiap tahun, diharapkan bagian dari roh masyarakat Pangandaran yang tetap lestari (ICS – Yusuf S).

Tulisan ini ditulis oleh Willfridus Demetrius Siga & Anthonio Calvin Bawotong dan merupakan bab dalam buku (book chapter) dari Bunga Rampai Desa Juara

Baca Sumber: klik gambar di bawah

Berita Terkini

Latest News

DESA SUBANG – KUNINGAN : MODEL PENGEMBANGAN POTENSI LOKAL

Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan Jawa Barat terletak diantara perbukitan bagian tenggara Gunung Ciremai dengan ketinggian 453 meter, curah hujan rata-rata 100-200 ml dan suhu rata-rata 25- 30 0C, serta musim hujan yang cukup panjang kurang lebih...

DESA BATU KARAS – PANGANDARAN : MEMBANGUN DESA WISATA BERKELAS GLOBAL DENGAN MENJAGA BUDAYA, TRADISI DAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL

Waktu menunjukkan pukul 4 sore di hari Kamis. Artinya, para nelayan di Batukaras harus menghentikan aktivitas melaut hingga esok hari setelah waktu Jum’atan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun temurun, dianggap sakral, dan masih diterima dengan baik oleh...

2025, Rumusan Eksekutif P3M

Program PPPM 2025 Fakultas Filsafat UNPAR mengusung tema penanggulangan stunting berbasis potensi lokal di Kabupaten Pangandaran. Sebanyak 46 mahasiswa menerapkan riset partisipatif dan pembelajaran eksperiensial di wilayah pesisir dan pedesaan. Kegiatan ini selaras...

2024, Rumusan Eksekutif P3M

Program Pendidikan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 2024 Fakultas Filsafat UNPAR mengintegrasikan pembelajaran eksperiensial dengan riset partisipatif di Kabupaten Pangandaran. Empat puluh enam mahasiswa mengeksplorasi potensi lokal melalui metode Participatory...

2023, Rumusan Eksekutif P3M

Pada Semester Genap 2022/2023, Program Pengabdian dan Penelitian Mahasiswa (PPPM) diikuti oleh 46 mahasiswa Program Sarjana Filsafat Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan dari tiga konsentrasi studi. Berdasarkan hasil asesmen dan pemetaan wilayah yang...

Video

2023, P3M Fakultas Filsafat Unpar, Pangandaran, Jawa Barat (6)

https://www.youtube.com/watch?v=8aBbYhOnx6I

2023, P3M Fakultas Filsafat Unpar, Pangandaran, Jawa Barat (5)

https://www.youtube.com/watch?v=1G7luV8RMK8

2023, P3M Fakultas Filsafat Unpar, Pangandaran, Jawa Barat (4)

https://www.youtube.com/watch?v=msEEmb8Y6IE

2023, P3M Fakultas Filsafat Unpar, Pangandaran, Jawa Barat (3)

https://www.youtube.com/watch?v=0AUhbyTq19g