Waktu menunjukkan pukul 4 sore di hari Kamis. Artinya, para nelayan di Batukaras harus menghentikan aktivitas melaut hingga esok hari setelah waktu Jum’atan. Tradisi ini telah diwariskan secara turun temurun, dianggap sakral, dan masih diterima dengan baik oleh masyarakat Batukaras. Ketika ada yang melanggar, masyarakat akan dengan otomatis memberikan sanksi berupa mesin yang disita dan perahu yang diisi pasir.
Tradisi ini merupakan kearifan lokal Batukaras yang berfungsi menjadi kontrol bagi para nelayan, sekaligus menjaga kerukunan antar warga. Secara profan, ada juga yang bilang kalau larangan melaut antara pukul 4 sore di hari Kamis hingga sekitar pukul 1 siang di hari Jum’at, adalah waktu libur yang dapat dipakai para nelayan untuk istirahat. Para nelayan dari luar Batukaras yang belum tahu aturan tersebut dan tetap melaut. Biasanya, nelayan lain yang dari Batukaras langsung memberikan sosialisasi mengenai larangan
melaut dan mereka langsung berkomitmen mematuhi aturannya.
Batukaras juga mempertahankan jam malam yang telah dianggap bermanfaat bagi warga lokal maupun pendatang. Jam malam ini sebetulnya tidak diberlakukan melalui aturan atau imbauan resmi, namun terjadi dengan sendirinya. Mulanya, kegiatan malam lebih dari jam 10 atau 11 malam tidak dibiasakan, ada kecuali ketika menyelenggarakan acara di hari besar. Pengecualian acaranya pun bukan musik DJ atau kegiatan yang memicu aktivitas mudhorot seperti mabuk-mabukan, tapi seperti Wayang Golek, Tabligh Akbar, atau Dangdut yang dipersilakan selama terkondisikan. Apabila berwisata di Batukaras, pasti setelah jam 10 tidak akan ada kegiatan ramai, yang dapat mengganggu ketentraman warga sekitar.
Wisata malam yang mati ini justru dipertahankan, dicari, dan dianggap unik oleh para wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman). Keunikan jam malam ini direspons dengan diikutinya aturan tersebut, dan sampai sekarang tidak ada pendatang yang berperilaku aneh di malam hari. Karena keunikan ini pulalah, bahkan ada wisman dari Jepang dan Korea yang stay liburan di Batukaras hingga 6 bulan karena nyaman dengan kearifan lokalnya.
Pak Dede, kelahiran tahun 1982 pituin Batukaras yang telah menjabat sebagai Kepala Desa sejak tahun 2019, merasa bangga dengan kearifan lokal, yang terus dilestarikan oleh warga lokal maupun pendatang. Hal ini juga yang menjadikan Batukaras memiliki ciri khas daripada wilayah pesisir pantai lain. Tentu di luar daripada fakta bahwa pantai Légok Pari yang selama ini kita kenal sebagai pantai Batukaras merupakan destinasi internasional bagi peselancar, entah yang mau belajar maupun yang profesional. Bule Australia, Inggris, Amerika, Spanyol, dan Jerman tercatat sering datang ke Batukaras untuk berselancar dan menyepi.
Terlebih setelah Batukaras ikut pemekaran Kabupaten Pangandaran dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2012, dan berstatus Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tahun lalu, tidak hanya wisatawan yang semakin membludak datang ke Batukaras, tapi juga investor melalui Penanaman Modal Asing (PMA) atau individu yang hendak membeli tanah atau berbisnis.
Pihak manapun tidak akan bisa berbisnis di Batukaras ketika Izin Lingkungan dan salah satunya komitmen menghormati kearifan lokal tidak disetujui. Beliau mencontohkan pernah ada yang melamar berbisnis mendirikan klub malam di Batukaras dan ditolak oleh pihaknya. Pebisnis tersebut menyetujui dan tetap berbisnis dengan cara mendirikan homestay/villa.
Hampir 4 tahun menjadi Kepala Desa Batukaras, Pak Dede selalu mengapresiasi bagaimana masyarakat Batukaras menjaga dan merawat kearifan lokal yang dimiliki Batukaras. Objek wisata di Batukaras seperti Pantai Légok Pari, Situ Cisamping, wisata religi Makam Sembah Agung, juga Body Rafting sendiri menjadi nilai lebih yang diberikan Tuhan bagi masyarakat Batukaras yang perlu terus dirawat dan dilestarikan. Utamanya setelah menjadi Desa Wisata dan perlu mengimplementasikan nilai-nilai sustainable tourism. Suasana alam yang aman dan nyaman akan terus menjadi visi kolektif masyarakat Batukaras.
Pak Dede berharap agar setiap sektor di Batukaras semakin baik dan berkelanjutan. Dari segi pendidikan, semoga kapasitas SDM masyarakat Batukaras juga semakin meningkat. Dalam hal ini, Pak Dede menyoroti agar kesempatan kuliah bagi anak muda Batukaras semakin banyak, tidak hanya bagi anak nelayan, sehingga para penerusnya juga semakin berpendidikan. Peluang sudah semakin banyak dan terbuka lebar, tinggal bagaimana kita bersama-sama menjemput bola, kesempatan itu sehingga tidak ada lagi anak-anak Batukaras yang putus sekolah apalagi di tahapan sekolah dasar dan menengah.
Pak Dede juga menekankan bagaimana sektor ekonomi, pariwisata, juga perikanan budi daya dan tangkap di Batukaras dituntut untuk semakin
berkembang. Hal tersebut hanya dapat diolah oleh SDM dengan kapasitas yang semakin baik, sehingga hasilnya juga akan berlipat-lipat.
Semoga Batukaras bisa semakin mengeksplorasi potensi alam dan kait kelindannya dengan sektor lain. Hal ini juga disesuaikan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pangandaran Nomor 4 Tahun 2021, yakni “Pangandaran Juara Menuju Wisata Berkelas Dunia Yang Berpijak Pada Nilai Karakter Bangsa”.
Visi Misi Kabupaten Pangandaran dalam hal wisata berkelas dunia disambut dan didukung penuh oleh Batukaras. Dengan masuk keluarnya wisman di Batukaras, sudah merupakan ciri dari wisata kelas dunia, tinggal bagaimana semakin semangat dalam mengimplementasikan faktor pendukung, seperti infrastruktur dan peningkatan kapasitas SDM.
Dari segi kesehatan, semoga Batukaras semakin bisa menanggulangi permasalahan seperti gizi buruk dan stunting sehingga peningkatan kesejahteraan kolektif semakin optimal. Lalu, dari segi kebudayaan, semoga Batukaras semakin merawat tradisi baik yang telah ada dan semakin menghormati leluhur.
Batukaras juga mendukung penuh implementasi program Jabar Juara, utamanya dalam sektor ekonomi kreatif dan inovasi melalui sektor pariwisata yang telah dikenal tidak hanya oleh wisnus tapi juga wisman.
Dukungan dibuktikan dengan dikawalnya pembangunan Pelabuhan Juara, jalan tol Batukaras-Madasari, jembatan Sodongkopo, dan sumbangsih Batukaras dalam sektor hasil laut. Ikon Hotel Mercusuar di Batukaras akan dibangun untuk wisatawan kelas dunia, juga mendapat dukungan penuh, selama manfaatnya dapat dirasakan oleh warga lokal.
Tulisan ini ditulis oleh Willfridus Demetrius Siga & Penti Aprianti dan merupakan bab dalam buku (book chapter) dari Bunga Rampai Desa Juara
Baca Sumber: klik gambar di bawah



