Tentang Artikel Ini Konten yang Anda baca ini adalah publikasi ulang dari tulisan yang telah terbit di laman resmi BandungBergerak. Kami menghargai integritas jurnalistik dan hak kekayaan intelektual. Oleh karena itu, pembaca dipersilakan untuk mengakses dan merujuk langsung ke tautan sumber asli guna mendapatkan pengalaman membaca yang utuh serta memastikan validitas informasi. Sumber: Kisah di Balik Meja Makan,…
BandungBergerak.id – Ini merupakan sebuah kisah yang diambil dari penelitian kelompok P3M dusun Cidahu, Desa Batukaras, Kec. Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Di dusun Cidahu, kami mendapat tugas dari Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) untuk meneliti tentang kerentanan ketahanan pangan orang-orang kurang mampu baik secara ekonomi maupun ketahanan pangan itu sendiri.

Kami mewawancarai beberapa warga kurang mampu baik lansia maupun warga muda yang belum menyentuh genap 50 tahun. Kami melontarkan beberapa pertanyaan mudah, seperti: “Dalam sehari makan beberapa kali? Apakah makannya dengan lauk? Jika iya, lauk apakah yang dimakan? Sayuran atau daging (ayam, sapi, kambing)?” Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan makanan dan aset. Yang menarik ialah jawaban mereka, mayoritas memiliki sawah dan hasilnya untuk dikonsumsi diri sendiri. Selain itu, hasil sawah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan beras mereka sampai panen berikutnya. Warga yang kami wawancarai memiliki kebiasaan makan dua hari sekali, diiringi dengan lauk sayuran dan jika tidak ada lauk sambal pun mereka merasa cukup.
Keluarga yang tidak mampu ini, biasanya diberikan bantuan oleh pemerintah berupa uang tunai dan sembako. Bantuan yang biasa mereka dapatkan adalah PKH dan BPNT. Mereka bersyukur mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun yang unik mereka tidak bergantungan pada bantuan tersebut. “Ada bantuan syukur, jika tidak ada juga tidak apa-apa,” ucap kakek Ucup (nama samaran) berusia 65 tahun. Mentalitas seperti ini yang kami harapkan ada di tengah masyarakat, bukan mentalitas minta-minta yang sering ditemui, khususnya, di kalangan muda.
Sebelum membahas lebih dalam, lebih baik kita membahas soal profesi yang dikerjakan oleh masyarakat kurang mampu ini. Di tulisan ini, kami hanya menceritakan tiga orang dengan latar belakang di antaranya memiliki profesi sebagai pengrajin sapu lidi dan pemandu wisata. Pengrajin sapu lidi ini ialah dua orang lansia, sepasang suami-istri yang sudah mengalami asam-manisnya kehidupan. Selanjutnya, pemandu wisata merupakan seorang ayah yang memiliki tekad kuat untuk menghidupi dua anaknya di tengah lesunya ekonomi nasional dan internasional. Terakhir adalah seorang kakek berusia 65 tahun, tidak bekerja karena memiliki penyakit stroke………. lanjutkan dengan klik sumber Asli: Kisah di Balik Meja Makan..
Michael Angelo Bryan
(Peserta P3M, 2025)

