Tentang Artikel Ini Konten yang Anda baca ini adalah publikasi ulang dari tulisan yang telah terbit di laman resmi BandungBergerak. Kami menghargai integritas jurnalistik dan hak kekayaan intelektual. Oleh karena itu, pembaca dipersilakan untuk mengakses dan merujuk langsung ke tautan sumber asli guna mendapatkan pengalaman membaca yang utuh serta memastikan validitas informasi. Sumber: Merawat Alam dengan Kultur Perkebunan Dusun Cikubang yang Turu…
BandungBergerak.id – Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, memiliki kultur yang unik di masyarakatnya di mana “cinta” tidak cukup hanya dibuktikan oleh kata-kata. Ada satu syarat tak tertulis namun dihormati secara turun-temurun, yaitu sang calon menantu harus bisa bertani. Baik calon wanita maupun pria, bagi warga setempat bertani bukan sekedar pekerjaan ia adalah bagian dari kehidupan, sekaligus tolak ukur dalam kesiapan membangun rumah tangga.
Nama Cikubang berasal dari dua unsur kata dalam bahasa Sunda “ci” yang berarti “air” atau “mata air”, dan “kubang” yang merujuk pada “genangan air” atau “kubangan” yang terbentuk secara alami. Sejarah penamaan dusun ini mencerminkan kondisi geografis dan pengalaman bertani masyarakat setempat.
Dusun Cikubang berada di dataran rendah, dikelilingi dusun-dusun lain yang letaknya lebih tinggi. Posisi ini membuat wilayah Cikubang rentan tergenang air saat musim hujan, namun ironisnya dusun ini tidak memiliki saluran irigasi yang baik. Akibatnya, warga sering mengalami kegagalan panen, baik karena lahan terlalu becek maupun karena kekeringan.
Dalam percakapan kami dengan salah satu narasumber warga setempat (G, 34 tahun) yang menyebutkan bahwa letak Dusun Cikubang yang berada di dataran rendah membuatnya kerap tergenang saat hujan dan kekeringan saat kemarau, tanpa saluran irigasi memadai. Kondisi ini menyulitkan pertanian, namun justru membentuk cara hidup warga yang terbiasa menghadapi ketidakpastian alam. Hingga kini, nama “Cikubang” digunakan sejalan dengan kondisi alam dan cara hidup masyarakat sini yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di Dusun Cikubang, tanah bukan sekedar hamparan lahan kosong yang ditanami, melainkan bagian penting dari hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Kebun menjadi simbol kelangsungan keluarga, bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai tanggung jawab. Tak heran jika seorang pemuda ingin meminang sering kali diukur bukan dari seberapa besar penghasilannya, melainkan seberapa piawai ia mengurus kebun. Di sini “Kalau mau jadi menantu kalo gak bisa berkebun gak bisa ngapa-ngapain” begitu ungkapan yang dilontarkan narasumber kepada kami.
Mengolah tanah dan kebun dipandang sebagai cerminan karakter, kesabaran, ketekunan, dan komitmen jangka panjang, dan semua hal yang dianggap penting dalam membangun kehidupan bersama.

Kebun dan Tanggung Jawab Warisan Keluarga
Sebagian besar warga dusun Cikubang hidup dari kebun campuran yang mereka kelola secara mandiri. Lahan-lahan ini ditanami berbagai jenis tanaman seperti singkong, pisang, kelapa, dan hasil kebun lainnya yang dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Setiap keluarga, baik yang memiliki lahan luas maupun sempit, menanam dengan prinsip keberlanjutan, saling bantu, dan menjaga keseimbangan. Kebun tidak hanya memberi makan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan bertindak. Anak-anak sejak dini diajak ke ladang kebun, dikenalkan pada ritme musim, diajari mengenali jenis tanah, serta mengalami langsung lelah dan gembiranya menanam dan memanen. Di sinilah ruang belajar berlangsung secara alami, tanpa kurikulum, tanpa ruang kelas. Nilai-nilai kerja keras, ketekunan, dan cinta terhadap alam tumbuh melalui pengalaman nyata. … klik Sumber: Merawat Alam dengan Kultur Perkebunan Dusun Cikubang yang Turu…
(Intan M Prasiwi, Renatha A Nazwanindya, Nabilah R Syaherani, Kalyanarga Rizal, Sajjadali D Rakhmat, Charity Damarisa)
Peserta P3M, 2025)


