“Satu frekuensi” adalah frasa yang kerap kita lempar dalam percakapan urban untuk menyebut kecocokan antarmanusia. Namun, jauh sebelum istilah itu diserap ke dalam kamus fisika modern, leluhur Sunda telah merumuskannya melalui sasajen. Secara etimologis, kata ini berakar dari sasaji atau sa-ajin yang bermakna “sehati”, “satu nilai”, dan “satu getaran”. Menaruh sajen bukanlah ritual pemujaan benda mati, melainkan sebuah “teknologi komunikasi” kuno untuk menyelaraskan ritme internal manusia dengan frekuensi semesta. Di dunia yang semakin terfragmentasi, pencarian titik temu atau ngahijikeun rasa ini bukan lagi pilihan spiritual—ia menjadi syarat agar kita tidak berubah menjadi noise yang mengganggu harmoni ekosistem.
Kalibrasi Diri di Bawah Cahaya Purnama
Salah satu cara atau saranal untuk mencapai keselarasan itu adalah ritual Bakti Mata Purnamakala. Berdasarkan naskah Sunda Kuno, ritual ini dilaksanakan pada dua titik ekstrem: bulan purnama dan bulan mati. Secara saintifik, keduanya adalah puncak fluktuasi energi elektromagnetik alam yang memengaruhi segala hal, mulai dari pasang surut laut hingga siklus biologis manusia. Tanpa kesadaran ekologis, lonjakan energi ini hanya memicu ketegangan saraf. Namun, melalui ritual, energi itu justru dikelola dan diarahkan menjadi daya hidup.
Pondasi pengelolaan energi ini terletak pada filosofi Tritangtu. Dalam tradisi Sunda, Tritangtu tidak hanya berlaku di Buana Ageung (makrokosmos/alam semesta), tetapi juga di Buana Alit (mikrokosmos/diri manusia). Tritangtu diri tersusun dari tiga poros keseimbangan:
- Karsa (kehendak/niat) sebagai puncak,
- Akal (logika/rasionalitas) di sisi kiri,
- Rasa (empati/intuisi) di sisi kanan.
Sebelum menyelaraskan diri dengan alam, manusia wajib “menyetem” instrumen batinnya. Naskah Sasana Maha Guru menyebutnya sebagai kesadaran terhadap Dasar Neraka—sepuluh pintu sensorik tubuh (mata, telinga, lisan, hingga indra peraba) yang rentan menjadi saluran distraksi. Jika lisan hanya digunakan untuk menyakiti atau mata hanya menangkap hal yang merusak, frekuensi diri akan “fals”. Mengendalikan kesepuluh pintu ini adalah cara kita mengkalibrasi getaran internal agar layak berdampingan dengan ritme Tuhan dan alam.
Sains di Balik Batu dan Senar Kawat Rem
Seringkali, penghormatan pada batu atau pohon dilabeli sebagai mistis. Padahal, jika ditelisik secara ilmiah, batu—terutama yang mengandung mineral tertentu—berfungsi sebagai signal node atau penguat sinyal elektromagnetik alam. Penelusuran di Gunung Manglayang membuktikan hal ini: titik-titik bebatuan purba yang disebut dalam naskah kuno, seperti Sanghyang Halis, menunjukkan anomali ketinggian dan sinyal presisi pada koordinat tertentu (misalnya di elevasi 1.200 mdpl). Batu tidak disembah, melainkan diakui peranannya sebagai “antena” yang menangkap dan memantulkan pesan semesta.
Sintesis antara tradisi dan modernitas ini juga tercermin dalam Tarawangsa atau Ngek-ngek. Instrumen kayu ini secara unik menggunakan kawat rem bekas sebagai senarnya. Mengolah benda industri yang kasar menjadi penghasil resonasi spiritual yang halus adalah metafora sempurna bagi manusia masa kini: kita bisa memanfaatkan kemajuan material untuk menjangkau frekuensi yang melampaui logika biasa.
Etika Aksi: Membalik Logika “Bicara Dulu, Kerja Kemudian”
Kebijakan ekologi kita sering mandek karena terjebak pada pola Pok-Pek-Prak: rapat dan regulasi dulu, baru dipikirkan, lalu dikerjakan—jika sempat. Naskah Siksakandang Karesian justru memerintahkan kebalikannya: Prak-Pek-Pok.
- Prak (Bakti): Mulai dengan kerja nyata. Tanam, rawat, atau pulihkan.
- Pek: Renungkan, pelajari pola dari hasil tindakan tersebut.
- Pok: Bagikan sebagai ilmu pengetahuan.
Bakti harus mendahului teori. Tanpa pengabdian nyata pada tanah, ilmu pengetahuan hanya akan berubah menjadi alat eksploitasi yang halus. Aksi ekologis adalah fondasi; ilmu pengetahuan adalah pelengkap.
Gunung Manglayang: Kitab Alam yang Terkelupas
Manglayang adalah “kitab terbuka” yang kini sedang kita robek halamannya demi kepentingan jangka pendek. Sebagai penyangga air vital bagi Sumedang hingga Bandung melalui aliran Cikerung dan Danau Sakara, gunung ini kini menghadapi krisis identitas akibat tekanan kapitalisme.
| Kearifan Lokal (Dulu) | Realitas Kapitalisme (Kini) |
|---|---|
| Sasumur, Sadapur, Sakesek (sistem komunal) | Privatisasi sumber daya air oleh korporasi |
| Hutan sebagai leuweung tutupan (pelindung) | 70.000 Ha lahan kritis dari 120.000 Ha di Jawa Barat |
| Menanam sebelum mengambil | Eksploitasi 11 tangki air/hari; kebun bawang di 1.600 mdpl |
| Menjaga keseimbangan frekuensi | Defisit 10 juta pohon untuk reboisasi |
Kegagalan membaca “sajen” alam memicu peringatan purba yang disebut Uga: “Laju tembung sikap gunung kabung laju bedah kota Bandung bakal jadi segara.” Secara geologis, ancaman Sesar Lembang bukanlah fiksi. Ketika gunung digunduli dan rawa (ranca) seperti di kawasan Summarecon hingga GBLA—yang berfungsi sebagai “tabungan air” sedalam 64 meter—terus diuruk, kita secara tidak sadar mengundang Bandung kembali menjadi danau. Saat bencana datang, pohon Hanjuang yang dulu ditanam sebagai pembatas wilayah sekaligus obat luka, hanya bisa menjadi saksi bisu atas pelanggaran batas ekologi yang kita lakukan sendiri.
Refleksi di Balik Asap Kemenyan
Ritual seperti Ngarkes—berdoa dengan asap kemenyan—bukanlah praktik klenik. Ia adalah metode meditatif untuk memanggil energi positif dan memulihkan frekuensi yang terdistorsi oleh ego manusia. Lantunan Tarawangsa yang memanggil energi Saur dan Jeblang adalah upaya memanunggalkan kemanusiaan dengan keilahian.
Menghargai alam—pohon, batu, air—pada hakikatnya adalah menghargai diri sendiri. Dalam filosofi Sunda, kita dan alam moal aya antarana: tidak ada pemisah. Jika kita terus membangun jarak melalui eksploitasi, kita sedang meruntuhkan ruang hidup kita sendiri.
Di tengah kemudahan membeli air kemasan, mari renungkan: sudahkah kita menanam satu pohon untuk mengganti ribuan liter yang kita konsumsi? Atau kita menunggu hingga frekuensi alam berubah menjadi getaran bencana yang tak lagi bisa kita hindari? (ICS – Yusuf Siswantara)
______________________
Catatan: Materi dalam artikel ini dirangkum dari paparan Abah Enjum Dimyati dalam acara Inter Domus, Fakultas Filsafat, pada 7 Mei 2026. Dalam paparan dialogisnya, Abah Enjum menjembatani kearifan lokal Sunda dengan tantangan ekologis kontemporer. Dengan demikian pula, tulisan ini mengundang pembaca untuk menyelami kembali “frekuensi” yang menghubungkan manusia, alam, dan Yang Ilahi.
______________________


