FILSAFAT.AC.ID, 16 Mei 2026 — Program Mata Kuliah Umum (MKU) Etika Dasar kembali menghadirkan kegiatan pengayaan akademik melalui Kuliah Tamu bertema “Pendidikan Etika, Karakter, dan Pro Lingkungan”. Kegiatan yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan Dr. Rintoni sebagai narasumber utama, dan diikuti oleh 43 mahasiswa dari berbagai program studi lintas fakultas, mulai dari Administrasi Bisnis, Informatika, Arsitektur, Teknik Mekatronika, hingga Hubungan Internasional. Keragaman latar belakang peserta ini sekaligus mempertegas bahwa persoalan etika lingkungan tidak hanya relevan bagi satu disiplin ilmu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga akademik.
Dalam pemaparannya, Dr. Rintoni membawa peserta menelusuri fondasi filosofis etika lingkungan hidup, mulai dari pertanyaan mendasar tentang hakikat manusia sebagai Homo Sapiens, Sentiens, Faber, dan Volens, hingga paradigma ekologi yang menempatkan alam bukan sekadar sebagai sumber daya, melainkan sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik. Materi yang disajikan mengintegrasikan tiga dimensi moral—pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral—sebagai kerangka pembentukan karakter pro lingkungan yang utuh. Peserta diajak untuk memahami bahwa kepedulian terhadap alam bukan sekadar mengikuti regulasi, melainkan lahir dari kesadaran batin dan tanggung jawab eksistensial setiap individu.


Kuliah tamu ini mendapat sambutan yang sangat antusias dari para peserta. Berdasarkan hasil evaluasi yang dikumpulkan pasca kegiatan, 90,7 persen responden menilai topik yang dibahas sangat relevan dengan kebutuhan akademik mereka, dengan rata-rata skor relevansi mencapai 5,77 dari skala 7. Kualitas penyampaian narasumber pun mendapat apresiasi tinggi, dengan rata-rata penilaian 4,49 dari skala 5. Lebih dari itu, sebanyak 86 persen peserta menyatakan merasa termotivasi untuk bertindak lebih etis dan lebih peduli terhadap lingkungan setelah mengikuti sesi ini—sebuah capaian afektif yang menjadi tujuan utama pendidikan etika sebagai mata kuliah umum.
Salah satu momen yang paling membekas bagi peserta adalah pembahasan mengenai hubungan antara krisis lingkungan dan krisis karakter manusia. Sebagaimana diungkapkan dalam sesi refleksi, banyak peserta menyadari bahwa akar dari berbagai kerusakan alam yang terjadi saat ini sesungguhnya bersumber dari egoisme dan lemahnya integritas moral, bukan semata-mata dari kegagalan teknologi atau kebijakan. Diskusi interaktif yang menyertakan pertanyaan-pertanyaan kritis dari peserta—mencakup isu kebijakan lingkungan, peran pendidikan, hingga etika kecerdasan buatan—turut memperkaya jalannya kuliah tamu dan memperluas cakupan pembahasan melampaui teks-teks akademik semata.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam mengintegrasikan kajian etika dan filsafat ke dalam pembentukan karakter mahasiswa di seluruh jenjang dan program studi. Dengan 95,3 persen peserta merekomendasikan agar kuliah tamu serupa diselenggarakan kembali, institusi berencana untuk memperluas tema pada pertemuan mendatang, termasuk mengangkat isu etika dalam pengembangan teknologi dan kecerdasan buatan—topik yang oleh para mahasiswa dinilai sebagai yang paling mendesak untuk didalami. Melalui forum-forum seperti ini, pendidikan etika diharapkan tidak berhenti pada tataran pengetahuan di ruang kelas, tetapi benar-benar menjelma menjadi orientasi hidup yang membentuk generasi akademisi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan peduli terhadap keberlanjutan bumi (ICS – Yusuf S).


