Politik Persahabatan di Tengah Krisis: Mengenang Hannah Arendt

Politik Persahabatan di Tengah Krisis: Mengenang Hannah Arendt

Studium Generale “50 Years After the Passing of Hannah Arendt – Political Friendship Amid Multiple Crises

Fakultas Filsataf, 15 Desember 2025— Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) bekerja sama dengan Goethe-Institut menyelenggarakan ceramah penutup bertajuk “Political Friendship Amid Multiple Crises”, sebagai bagian dari perayaan 50 tahun wafatnya Hannah Arendt. Acara ini digelar di Gedung Fakultas Filsafat UNPAR dan menghadirkan dua intelektual terkemuka dari Jerman: Prof. Nikita Dhawan (Dresden University of Technology) dan Prof. Maria do Mar Castro Varela (Alice Salomon University of Applied Sciences Berlin).

Dalam suasana reflektif dan penuh semangat akademik, para pembicara mengangkat pentingnya membangun aliansi politik lintas perbedaan di tengah dunia yang dilanda krisis dan polarisasi. Dr. Stephanus Djunatan dari UNPAR turut berpartisipasi sebagai pembicara tamu, sementara Dr. Thomas Kristiatmo bertindak sebagai moderator. Ceramah ini menjadi penutup dari rangkaian diskusi sepanjang tahun yang diselenggarakan oleh Goethe-Institut, menandai kontribusi pemikiran Hannah Arendt terhadap dunia filsafat dan politik kontemporer.

Acara ini terbuka untuk publik dan disampaikan dalam bahasa Inggris, dengan harapan dapat memperluas ruang dialog lintas budaya dan disiplin. Para peserta diajak untuk merefleksikan kembali makna persahabatan politik sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi tantangan global.

Hannah Arendt dan Gagasan Politik Persahabatan

Hannah Arendt (1906–1975) adalah salah satu pemikir politik paling berpengaruh abad ke-20. Ia dikenal karena analisisnya yang tajam terhadap totalitarianisme, kekuasaan, dan kondisi manusia. Dalam karya monumentalnya The Origins of Totalitarianism, Arendt menjelaskan bagaimana isolasi sosial dan hilangnya ruang publik dapat membuka jalan bagi kekuasaan yang menindas. Bagi Arendt, politik bukan sekadar urusan negara, melainkan ruang di mana manusia bertindak bersama secara bebas dan bertanggung jawab.

Salah satu gagasan penting Arendt adalah tentang pluralitas—keyakinan bahwa keberagaman manusia merupakan syarat dasar bagi kehidupan politik yang sehat. Ia menolak homogenisasi dan mendorong pengakuan terhadap perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Dalam konteks ini, political friendship bukanlah relasi personal semata, melainkan bentuk solidaritas yang dibangun atas dasar pengakuan terhadap martabat dan perspektif orang lain.

Di tengah krisis global seperti migrasi, perubahan iklim, dan konflik identitas, pemikiran Arendt menjadi semakin relevan. Ia mengajak kita untuk tidak menyerah pada ketakutan atau kebencian, tetapi membangun aliansi lintas batas demi masa depan bersama. Politik persahabatan, menurut Arendt, adalah tindakan kolektif yang lahir dari keberanian untuk berpikir, berbicara, dan bertindak bersama—meski dalam perbedaan.

Dengan mengangkat tema ini, Fakultas Filsafat UNPAR dan Goethe-Institut tidak hanya mengenang warisan intelektual Arendt, tetapi juga menghidupkan kembali semangatnya dalam merespons tantangan zaman. Sebuah ajakan untuk membangun dunia yang lebih adil, terbuka, dan penuh harapan melalui kekuatan berpikir dan bertindak bersama (YS,2026).

Berita Terkini

Latest News

Kuliah Umum Internasional: Perspektif Agama dari China

FILSAFAT.AC.ID, Fakultas Filsafat menyelenggarakan kuliah umum bertema “Religion from the Perspective of China.” Kegiatan menghadirkan Prof. Guo Wu sebagai pembicara utama. Prof. Guo Wu merupakan Wakil Direktur Judaism and Interreligious Study Center, Shandong...

Fakultas Filsafat UNPAR Jajaki Kerja Sama Internasional dengan Shandong University, Tiongkok

FILSAFAT.AC.ID, 17/04/2026, Universitas Katolik Parahyangan, melalui Direktorat Urusan Internasional, Kerja Sama, dan Alumni, bekerja sama dengan Center for Philosophy and Cultural Research and Studies (CPCReS), Fakultas Filsafat UNPAR, menerima kunjungan akademik...

Universitas dan Institusi Budaya di Era Ketidakpastian

Di tengah gelombang disrupsi global yang menerpa berbagai sendi kehidupan, peran universitas dan institusi budaya menjadi semakin krusial. Hal ini mengemuka dalam diskusi panel bertajuk “Culture in an Age of Uncertainty: The Role of Universities, Cultural Institutions...

Buka Puasa Bersama Fakultas Filsafat Unpar: Merajut Keberagaman dalam Suasana Suci

Di tengah hangatnya suasana menjelang dan selama bulan suci Ramadhan, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggelar acara Buka Puasa Bersama yang sarat makna. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah perwujudan nyata dari...

Pantun Bogor, Sekularitas Lama, dan Imajinasi Pemerintahan Sunda

Kajian budaya kerap membuka jalan untuk memahami bagaimana masyarakat masa lalu menata hidup bersama, membangun sistem nilai, serta merumuskan relasi antara kekuasaan dan spiritualitas. Dalam konteks budaya Sunda, salah satu sumber refleksi yang menarik adalah tradisi...

Video

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Wisma Bintang Timur, Pangandaran

https://youtu.be/0PX86ALx7sE?si=Htfw90n4SVWL-2V9

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Ciamis

https://youtu.be/DXfygJrDTkg?si=UCxoFypBeKCDXX_H

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Desa Batukaras, Kab. Pangandaran

https://youtu.be/lOTant432m0?si=xRzxWlAdSKGbrMde

2025, P3M Fakultas Filsafat Unpar di Ciamis

https://youtu.be/nKfVC6dVXEc?si=UgHJu2dbgkGGHIYb